Senin - Sabtu : 07.30 - 16.00 WIB

Dibangun oleh Ki Ageng Pandanaran

Masjid ini dibangun di atas perbukitan yang tandus. Konon menurut narasi, dulunya masjid itu dibangun di pucuk Jabalakat (Gunung Jabalakat). Ini bisa saja untuk hindari pengusiran serta masalah. Oleh masyaraskat sekelilingnya untuk mengatakan kata golok(artinya yang dibuangkan selanjutnya menancap di tanah) cukup kesusahan. Pada akhirnya, mereka (warga mengatakan dengan nama “gholo”. Masjid ini saat ini terdapat di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Walau masjid ini termasuk tua, tetapi kekuatan bangunannya masih terlihat jelas. Masjid ini dibuat seputar era ke-16, memiliki ukuran 8 x 8 m serta sudah alami perbaikan 2x. Yang pertama di tahun 1980 oleh Departemen Agama serta Dinas Purbakala Depdikbud. Letak bangunan masjid 300 m dari makam Ki Ageng Pandanaran, tepat di pinggir jalan samping kiri serta arah Klaten ke Bayat dengan ketinggian kurang lebih 20 mtr. dari jalan.

Menurut narasi warga sekelilingnya, masjid ini masih ditempati jin yang namanya Muhammad Harun. Sempat salah seorang yang tidur di masjid, dipindah ke lain tempat (di luar masjid di bawah pohon). Serta, sampai sekarang ini masih ada bukti peninggalan riwayat yang asli, yakni beduk serta gentong untuk tempat air wudhu. Masjid Gholo atau Masjid Ki Ageng Pandanaran, kecuali dipakai untuk shalat Jumat, aktif mengadakan pekerjaan ceramah, sepeti pengajian teratur serta peringatan hari-hari besar Islam.

Tatap muka Wali Songo

Konon,- satu saat Wali Songo bergabung di Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. Mereka bermusyawarah cari profil alternatif Syekh Siti Jenar yang barusan diganjar hukuman. Sidang itu hampir alami ketidakberhasilan, jika bukan lantaran Sunan Kalijaga. Waktu itu, dia membulatkan tekad memberikan saran supaya menyepakati serta putuskan Bupati Semarang untuk profil alternatif Syekh Siti Jenar.

Saran itu membuat kerusuhan antara beberapa wali. Mereka neran, tidakkah Bupati Semarang populer sangat pelit? Tidakkah kehidupannya telah dikuasai harta benda? Tetapi, sidang sukses putuskan meskipun sedikit alami masalah yang pada dasarnya beberapa wali menyepakati saran itu dengan ketentuan Sunan Kalijaga yang lakukan pendekatan.

Mandat itu juga diterima serta Sunan Kalijaga selekasnya ke Semarang untuk menjumpai bupati. Dengan menyamar untuk pengemis, Sunan Kalijaga melihat si bupati yang dikenal juga dengan nama Ki Ageng Pandanaran, sedang asyik hitung uang di muka tempat tinggalnya.

Dengan sikap garang si bupati lemparkan sekeping uang logam pada pengemis. Sang pengemis yang tidak lain ialah Sunan Kalijaga, menampik pemberian itu. Serta, sebaliknya sang pengemis mencangkul sebongkah tanah serta melemparkannya pada si bupati. Momen itu membuat si bupati kaget serta bingung, sebab bongkahan tanah itu sudah menjadi sebongkah emas mumi.

Sadar

Semenjak insiden itu, menurut versus Babad Demak, bupati sadar serta ingin berguru pada Sunan Kalijaga. Kemauan itu bisa diterima dengan ketentuan bupati ingin jalankan beribadah seumur hidup serta ingin menebarkan agama Islam di golongan warga Semarang serta sekelilingnya serta siap bayar zakat dan lakukan shalat lima waktu.

Sesudah Ki Ageng Pandanaran siap penuhi ketentuan itu karena itu menurut D. A. Rinkers dalam bukunya De Heiligen Van Java, dia dipilih jadi mubalig sesudah beberapa saat mengajar. Dia selanjutnya mendapatkan mandat dari Sunan Kalijaga ke satu tempat, yakni Desa Tembayat. Untuk patuhi perintah gurunya, pada akhirnya dia tinggal di Desa Tembayat yang terdapat kira-kira 10 km dari arah Klaten ke selatan. Desa Tembayat terdapat di wilayah perbukitan tandus serta termasuk juga wilayah miskin.

Untuk kepentingan kekuasaan serta perdagangan diberikan pada saudaranya yang sangat tua. Demikianlah sepintas yang dicatat oleh H.J. De Graaf serta Th. G. Piguet dalam De Earste Moslime Vorstendommen ofjava. Di Tembayat berikut dia mulai menebarkan agama Islam, dan oleh Sunan Kalijaga dinamakan kehormatan untuk “Sunan Tembayat”. Karena pengetahuan serta kesalehannya karena itu dia dimasukkan untuk anggota Wali Songo.

Sunan Tembayat adalah profil rohani buat golongan bangsawan. Dia seorang guru agama serta ulama sufi. Dia ikhlas melepas kedudukan, harta benda, serta perdagangannya. Karena kesalehannya, hingga membekas pada orang pendeta yang berkeinginan jadi santrinya, diantaranya Bengawan Wasibango yang punya pengaruh pada syiar Islam.


error: Content is protected !!