Ketika melihat bangunan berkubah dari kejauhan, banyak orang langsung menebak bahwa bangunan tersebut adalah masjid. Lalu muncul pertanyaan, kenapa masjid identik dengan kubah? Apakah bentuk tersebut memang sudah ada sejak masa awal Islam, atau muncul karena pengaruh budaya dan sejarah tertentu?
Pertanyaan tersebut wajar muncul, terutama bagi pelajar, mahasiswa, atau panitia pembangunan masjid yang sedang merancang konsep bangunan.
Untuk memahami jawabannya, perlu melihat perjalanan sejarah, perkembangan arsitektur, serta bagaimana persepsi masyarakat terbentuk dari waktu ke waktu.
Sejak Kapan Kubah Digunakan pada Masjid?

Membicarakan tentang sejarah kubah masjid, kita harus menengok jauh ke belakang pada masa awal perkembangan ajaran agama Islam di jazirah Arab.
Pada masa kehidupan Nabi dahulu, tempat ibadah umat Islam yang pertama kali dibangun rupanya sama sekali tidak memakai struktur kubah.
Atap pelindungnya murni cuma berupa susunan pelepah daun kurma yang ditopang oleh tiang dari batang pohon kurma.
Lalu, dari mana asalnya wujud kubah yang sangat kita kenal sekarang? Rancangan atap melengkung ke atas sebetulnya sudah lebih dulu diciptakan dan dipakai oleh peradaban bangsa Romawi kuno serta kekaisaran Bizantium.
Bangunan besar milik kekaisaran kuno tersebut banyak memakai kubah supaya ruangan bagian dalam terasa sangat lega dan sirkulasi udara menjadi lebih bagus.
Ketika wilayah pemerintahan Islam mulai bertambah luas pada zaman kekuasaan Bani Umayyah, umat muslim perlahan mulai menyerap ilmu merancang bangunan dari penduduk wilayah baru yang mereka tempati.
Umat muslim mulai menyesuaikan gaya bangunan setempat guna mendirikan tempat ibadah yang lebih layak, luas, dan menampung banyak orang.
Salah satu contoh bangunan Islam paling awal yang tercatat memakai kubah adalah bangunan Dome of the Rock (Kubah Shakhrah) di kota Yerusalem.
Mulai dari titik waktu pendirian bangunan megah tersebut, pemakaian kubah pada masjid pelan-pelan menyebar luas menyapa berbagai tempat ibadah lainnya di daratan timur tengah.
Apakah Kubah Bagian dari Ajaran Islam?
Dalam laju pertumbuhan arsitektur masjid dalam Islam, bentuk wujud fisik bangunan selalu bebas menyesuaikan dengan keadaan alam, ketersediaan bahan baku di lingkungan sekitar, serta kebiasaan nilai budaya masyarakat setempat.
Kubah adalah murni hasil penyesuaian budaya dan hasil mahakarya seni rancang bangun, bukan sebuah kewajiban rukun beribadah yang kaku.
Agama Islam sangat mempermudah umatnya untuk mendirikan sarana ibadah di berbagai belahan bumi tanpa harus terus-menerus terikat pada satu macam wujud bangunan saja.
Bagaimana Kubah Menjadi Identitas Masjid?

Alasan pertama adalah karena wujud kubah sangat gampang dikenali oleh pandangan mata walau dilihat dari jarak yang amat jauh.
Bentuk struktur yang menjulang tinggi tersebut sangat berguna sebagai penanda arah bagi para musafir yang sedang melintas di jalanan.
Alasan kedua berkaitan erat dengan makna kubah masjid yang memancarkan pesona kemegahan sekaligus menghadirkan rasa ketenangan batin.
Ketika jamaah melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan utama lalu menatap plafon melengkung yang sangat tinggi tanpa adanya halangan tiang penyangga di tengah, suasana ruangan ibadah mendadak menjadi jauh lebih syahdu dan khusyuk.
Kubah memberikan kesan luas tak terbatas yang mengingatkan manusia akan kebesaran Tuhan.
Selain memberikan kesan megah, rancangan kubah rupanya juga punya nilai guna yang sangat membantu.
Sebelum zaman modern menemukan alat pengeras suara, lekukan di bagian atas plafon amat menolong memantulkan gema suara azan dan lantunan bacaan imam agar terdengar berlipat lebih nyaring menyapa seluruh sudut ruangan.
Perpaduan luar biasa antara keindahan luar dan tingginya nilai guna di bagian dalam membuat struktur kubah terus di pertahankan.
Perkembangan Kubah Masjid di Indonesia
Menilik riwayat perjalanan seni bangunan di tanah air kita, ragam perkembangan kubah masjid rupanya juga menyimpan cerita yang amat unik.
Pada zaman kerajaan dahulu, tempat ibadah peninggalan para wali penyebar agama di hamparan pulau Jawa sama sekali tidak memakai kubah bulat.
Masyarakat nusantara pada zaman itu jauh lebih akrab dengan rancangan atap tumpang bersusun yang biasa di sebut gaya arsitektur tajug.
Contoh paling nyata yang masih berdiri tegak adalah bangunan Masjid Agung Demak yang memakai atap tumpang bersusun dari kayu.
Gaya atap bersusun sangat cocok menahan curah hujan tinggi di wilayah nusantara sekaligus sukses mencerminkan nilai budaya masyarakat lokal.
Perubahan selera wujud bangunan mulai terjadi berkat kemudahan sarana pelayaran antar benua. Ratusan ribu penduduk bumi putera perlahan mulai berangkat pergi menunaikan ibadah haji menuju tanah suci.
Sepulang dari menempuh perjalanan jauh ke wilayah daratan jazirah Arab, para peziarah membawa pulang cerita kenangan tentang kemegahan bangunan berkubah besar.
Pelan-pelan, selera masyarakat mulai bergeser. Warga mulai bersemangat mendirikan tempat ibadah dengan cara meniru gaya khas timur tengah.
Seiring berjalannya waktu, panitia pembangunan zaman sekarang juga makin pintar mencocokkan ragam pilihan bentuk dan ketahanan bahan baku logam yang beredar.
Untuk menambah wawasan, pengurus warga bisa meluangkan waktu sejenak membaca ragam [jenis kubah masjid] serta ragam pilihan [material kubah masjid] yang banyak di tawarkan oleh bengkel produksi.
Walau gaya timur tengah sangat di gemari luas, zaman sekarang banyak juga kelompok masyarakat yang mulai kembali bangga melirik gaya bangunan tradisional lokal.
Salah satu contoh bangunan modern yang mencuri perhatian adalah Masjid Raya Sumatera Barat dengan atap meruncing menyerupai rumah gadang khas Minangkabau.
Jadi, Kenapa Masjid Identik dengan Kubah?
Sesudah menuntaskan bacaan urutan penjelasan panjang lebar di atas, kita sungguh bisa merumuskan kesimpulan akhir.
Jika ada tetangga yang bertanya kenapa masjid identik dengan kubah, jawabannya karena pengaruh sejarah panjang, pertukaran budaya, dan fungsi arsitekturnya.
Bentuk kubah bukan berasal dari perintah mutlak syariat, melainkan hasil karya peradaban manusia yang terus di sempurnakan dari abad ke abad.
Wujud kubah yang menjulang menjadi tanda pengenal paling mudah bagi umat Islam saat mencari tempat bersih untuk bersujud.
Memahami asal-usul kubah masjid dan maknanya membantu panitia pembangunan serta pengurus menyusun konsep arsitektur yang tepat sasaran.
Pengetahuan tentang latar belakang sejarah membuat warga tidak lagi gampang ribut menyalahkan perbedaan wujud bangunan satu sama lain.
Sebagai rekan terpercaya berpengalaman mendampingi panitia desa, Qoobah memahami pentingnya menjaga keselarasan nilai sejarah, bentuk bangunan, dan mutu kekuatan material.
Qoobah berkomitmen menghadirkan struktur atap yang kuat sekaligus mencerminkan identitas serta nilai arsitektur tempat ibadah setempat.