Setiap kali mendengar kata masjid, yang terlintas di benak kita biasanya adalah bangunan dengan kubah di bagian atasnya. Bentuk atap melengkung itu sudah begitu melekat sebagai ciri khasnya.
Dalam perencanaan pembangunan, pertanyaan “masjid harus punya kubah?” hampir selalu muncul.
Banyak yang beranggapan kubah adalah syarat utama sebuah masjid, padahal secara fungsi dan ketentuan syariat, anggapan tersebut perlu diluruskan.
Agar panitia tidak bingung dan tidak salah paham, mari kita bahas secara menyeluruh.
Kita akan melihat bagaimana ketentuan dalam ajaran Islam, menelusuri sejarah arsitektur masjid, serta memahami alasan mengapa kubah begitu identik dengan tempat ibadah umat Islam.
Apakah Masjid Harus Punya Kubah Menurut Syariat?

Membahas soal aturan agama dalam mendirikan tempat ibadah, banyak warga yang masih ragu dan bertanya apakah masjid wajib ada kubah? Jawabannya sebenarnya sangat sederhana.
Tidak ada satupun aturan agama atau dalil tertulis yang mewajibkan pemakaian atap berbentuk melengkung tersebut.
Pada masa Nabi, masjid dibangun dengan sangat sederhana. Atapnya menggunakan pelepah kurma, tiangnya dari batang kurma, dan lantainya masih berupa tanah atau pasir.
Agama Islam sangat memudahkan umatnya dalam segala urusan, termasuk urusan mendirikan bangunan.
Fokus utama dari mendirikan tempat ibadah adalah untuk kelancaran shalat berjamaah dan tempat berkumpul warga untuk belajar agama.
Selama tempatnya suci, bersih dari kotoran, dan bisa melindungi jamaah dari panas serta hujan, maka bangunan tersebut sudah sangat sah dipakai untuk beribadah.
Tidak ada keharusan untuk membuat atap dengan bentuk tertentu.
Sejak Kapan Kubah Digunakan pada Masjid?
Kalau bentuk atap melengkung bukan bawaan asli dari ajaran agama, lalu dari mana asalnya? Melihat ke belakang, sejarah kubah masjid rupanya punya cerita yang lumayan panjang.
Bentuk atap melengkung awalnya justru bukan berasal dari jazirah Arab.
Bangsa Romawi dan bangsa Persia kuno sudah lebih dulu memakai rancangan atap lengkung untuk bangunan besar peninggalan mereka.
Saat agama Islam mulai menyebar luas ke berbagai negara, umat muslim mulai belajar dan meniru ilmu bangunan dari daerah yang mereka datangi.
Atap melengkung mulai banyak dipakai pada tempat ibadah karena terbukti punya banyak manfaat bagus.
Bentuk melengkung ke atas membuat ruangan di bawahnya terasa jauh lebih luas dan tidak bikin sumpek.
Udara panas bisa naik ke atas, sehingga jamaah yang shalat di bawah merasa lebih sejuk.
Lama kelamaan, gaya bangunan tersebut menyebar sampai ke negara kita lewat para pendakwah dan pedagang pada zaman dahulu.
Kenapa Kubah Akhirnya Identik dengan Masjid?
Walaupun tidak wajib, kubah sudah lama di kenal sebagai bagian dari masjid. Karena itu, banyak orang merasa masjid kurang lengkap tanpa kubah.
Sebenarnya ada beberapa alasan sederhana kenapa kubah sering di pakai.
Alasan pertamanya adalah sebagai penanda arah yang paling gampang di kenali. Bangunan yang menjulang tinggi dan punya atap melengkung sangat gampang di lihat dari jauh.
Orang yang sedang bepergian akan langsung tahu kalau di arah sana ada tempat untuk menumpang shalat.
Alasan keduanya berkaitan dengan arsitektur masjid dalam Islam pada zaman dahulu. Jauh sebelum alat pengeras suara di temukan, lekukan atap yang membulat di bagian dalam sangat membantu memantulkan suara adzan.
Suara imam saat memimpin shalat juga bisa bergema dan terdengar lebih keras ke seluruh sudut ruangan berkat bantuan lekukan atap tersebut.
Secara pemandangan luar, lekukannya juga memberi kesan ruangan yang lega, bersih, dan sangat rapi.
Apakah Masjid Tanpa Kubah Tetap Sah?

Sesudah tahu asal usul ceritanya, jawabannya tentu saja sangat sah. Membangun masjid tanpa kubah sama sekali tidak melanggar aturan agama.
Sah atau tidaknya sebuah tempat ibadah di ukur dari rajin tidaknya warga mengadakan shalat berjamaah dan pengajian di dalamnya, bukan di ukur dari bentuk atapnya.
Ada banyak sekali contoh bangunan bersejarah di negara kita yang berdiri kokoh tanpa mahkota atap melengkung.
Misalnya saja Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus yang atapnya bersusun seperti atap rumah joglo peninggalan zaman kerajaan.
Ada juga bangunan baru seperti Masjid Raya Sumatera Barat yang atapnya meniru bentuk atap rumah gadang khas masyarakat Minang.
Bahkan, tempat ibadah pertama yang di bangun Nabi yaitu Masjid Quba di masa awal berdirinya juga murni di bangun tanpa atap melengkung sama sekali.
Semua contoh bangunan tersebut membuktikan kalau warga sangat bebas merancang tempat ibadah menyesuaikan budaya daerah setempat.
Kesimpulan: Jadi, Perlukah Kubah pada Masjid?
Setelah membaca semua penjelasan santai di atas, pertanyaan mengenai apakah masjid harus punya kubah rasanya sudah terjawab dengan sangat jelas.
Jawabannya adalah tidak wajib sama sekali. Wujud atap tersebut murni hanya sebagai penanda bangunan dan hiasan supaya tempat ibadah terlihat makin indah saat dipandang warga.
Keputusan untuk memakai atau tidak memakai atap melengkung sepenuhnya ada di tangan panitia pembangunan hasil musyawarah warga.
Panitia sangat bebas menyesuaikan rancangan bangunan dengan dana uang kas yang terkumpul dan selera masyarakat di lingkungan sekitar bangunan.
Bila panitia desa akhirnya sepakat untuk tetap memakai atap melengkung supaya bangunan lebih gampang di kenali, ada baiknya panitia mencari tahu lebih banyak soal panduan [fungsi kubah masjid] supaya wawasannya makin bertambah.
Panitia juga amat di sarankan untuk membaca ulasan tentang berbagai macam [jenis kubah masjid] serta ragam [material kubah] yang di jamin awet melawan panas dan hujan badai.
Memahami konsep dasar bangunan sejak awal akan sangat menolong panitia menyusun rencana pembelanjaan dengan tenang dan matang.
Sebagai merek yang sudah lama di percaya oleh ribuan panitia desa, qoobah selalu sedia membantu merencanakan atap tempat ibadah bagi warga.
Bekerja di bawah bendera PT. Anugerah Kubah Indonesia, tim qoobah terus berupaya menghadirkan atap bangunan yang pas dengan budaya warga, punya kekuatan terjamin, dan pastinya aman bagi uang sumbangan umat.